a spell to forgive and forget

I want something magical. Iced water to kill my fire. Maybe the biggest storm to drown out the thunder in my heart. Or sprinkle of pixie dust that can erase someone’s hurtful words.

But sometimes magic is not a snap of finger or a whisper of easy spell. Maybe magic is the slow descent of forgiveness that cools down your anger. Maybe magic is the rough waves that never give you chance to settle and instead force you to survive the pain.

Continue reading “a spell to forgive and forget”

Kelopak yang Meniupkan Angin #12

Kesedihan menerpa dua puluh sembilan jam setelah kematian hadir dan pergi. Di sekitar mereka hanya salju, dinginnya menusuk tulang. Tetapi ketika mereka tatap bulan merah yang memudar di awal hari, mereka tahu bahwa api telah membakar darah yang tumpah hingga tak berbekas. Dalam benak Victor, implikasi bahwa hal seperti itu bisa  terjadi terasa seperti tamparan yang menyakitkan. Ia pikir klan mereka tak terkalahkan, tapi dalam satu malam, hanya mereka berdua yang tersisa. Dua bocah yang tersesat di bawah rembulan yang perlahan menghilang.

Fajar akan menghampiri lebih cepat dari kedipan mata. Maka Victor menarik ujung jubah yang menutupi figur ramping saudarinya, mengirim pesan yang bahkan tidak membutuhkan kemampuan telepati mereka untuk tersampaikan.

Continue reading “Kelopak yang Meniupkan Angin #12”

Kelopak Yang Meniupkan Angin #10

Ada legenda tentang vampir. Ada legenda tentang makhluk penghisap darah yang bersemayam dalam kegelapan. Ada mitos tentang kutukan yang hadir bersama dengan tiap gigitan taring, tiap tetes darah yang tersedot. Ada mitos tentang makhluk yang memperlakukan manusia layaknya santapan makan malam–menu mewah yang takkan puas-puasnya dinikmati.

Continue reading “Kelopak Yang Meniupkan Angin #10”

Kelopak yang Meniupkan Angin #9

Darah mengalir ke dagunya—sisa dari yang tak bisa tertelan oleh mulut. Rasanya pahit, mencekik. Victor meludahkan apa yang masih tertinggal di lidahnya—kulit yang terkoyak oleh kedua taringnya—dan melangkah mundur. Dia bisa mendengar teriakan Luna bergema di dalam benaknya, tapi terlalu banyak rangsangan daripada yang mampu Victor terima saat ini, jadi ia membangun dinding dan membuat semua suara—dari luar dan dalam kepalanya—membisu.

Atau paling tidak ia mencoba.

Continue reading “Kelopak yang Meniupkan Angin #9”

Kelopak Yang Meniupkan Angin #7

“Apa kalian?”

Suaranya berdesis, berdentang, seperti lonceng yang digetarkan di dalam panci di atas perapian. Victor tidak tahu kenapa ibunya melelehkan lonceng setiap malam tanpa bulan datang. Ia tidak pernah bertanya. Dan sekarang dia tidak akan lagi memiliki kesempatan untuk bertanya.

“Apa kalian?”

Continue reading “Kelopak Yang Meniupkan Angin #7”

Kelopak Yang Meniupkan Angin #6

Namun manusia atau bukan, mereka jelas anak-anak. Begitu muda. Tidak mungkin lebih tua dari Ren sendiri, yang di akhir musim panas akan mencapai empat belas tahun. Jadi ia memberanikan diri untuk mendekat, setelah sebelumnya meletakkan keranjang berisi ranting-ranting dan dahan pohon yang ia kumpulkan di sepanjang jalan menembus hutan dari desa di bawah bukit ke rumah orang tuanya di belakang gereja biru muda. Langkah kakinya bergemeresik di atas dedaunan kering, yang baru Ren sadari kemudian—sama seperti keberadaan dua sosok asing itu—adalah pemandangan yang salah. Tidak ada daun yang gugur di musim dingin. Bahkan tidak ada daun yang bisa ia temukan di tengah cuaca bersalju ini. Jadi dedaunan itu memang muncul dari ketiadaan dan bukan bagian dari hutan.

Continue reading “Kelopak Yang Meniupkan Angin #6”