Kelopak yang Meniupkan Angin #13

Separuh darinya adalah hutan.
Maka separuh dari dirinya adalah satu yang enggan menumpahkan darah.
Separuh darinya adalah milik rembulan.
Maka hatinya tidak bisa menyalahkan naluri sang adik,
yang lebih memilih menyerang daripada diserang.

Selama belasan tahun, dia bertanya pada diri sendiri.
Siapa kau?
Akan menjadi apa kau?
Seberapa banyak yang adalah warisan dari ibumu?
Seberapa banyak yang terbentuk karena asuhan ibu tirimu?
Mana yang lebih kau sukai dari dirimu sendiri?

Namun setelah belasan tahun, ini pertama kalinya ia bertanya.
Jika siapa aku dan akan menjadi apa aku
bukan sesuatu yang kuinginkan,
apa yang harus kulakukan?

Ayahnya mungkin akan menjawab dari balik bayangan rembulan,
“Kau adalah apa yang kau lakukan.
Apa yang kau tentukan.
Apa yang kau rasakan.”

Ibunya, dari sudut kenangan yang tidak pernah ada,
dari bawah permukaan memori yang tidak pernah tercipta,
berbisik,
“Kau bisa menjadi apa saja.
Tapi kau tidak bisa menjadi segalanya.”

Dia bisa menjadi bagian dari hutan sepenuhnya.
Dia bisa menyerahkan segenap jiwanya kepada rembulan.
Apa saja.
Tapi bukan segalanya.
Bukan keduanya.

“Aku Luna.” Ia berkata. “Aku bulan yang menyinari bentangan hutan.” Ayahnya pernah berkata.

Di mana batas antara apa saja dan segalanya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s