Kelopak Yang Meniupkan Angin #11

Seperti kelopak bunga yang ditiup angin, dia runtuh.
Bocah manusia yang tak nampak lebih tua darinya,
Meski wajah senantiasa menipu.
Tangan Luna terulur, namun tidak menyentuh.
Karena seumur hidup,
Dia dibesarkan untuk menjadi pemburu.

Taring Victor bernoda darah,
Senyumnya tak bermakna.
Hanya lapisan emosi yang tidak pernah ia sampaikan lewat kata-kata,
Benteng dengan belasan kunci terpasang.
Matanya adalah gurat kebingungan,
Bocah yang terlalu lama dilindungi tebalnya dinding perlindungan orangtua.

Mereka berdua sama saja.
Meski Luna dari hutan.
Meski Victor adalah pengabdi rembulan.
Tak ada bedanya.

Mereka hanya dua bocah yang kehilangan rumah.
Dua bocah yang kehilangan arah.
Dua bocah yang mulai memijak tanah kemalangan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s