Kelopak yang Meniupkan Angin #9

Darah mengalir ke dagunya—sisa dari yang tak bisa tertelan oleh mulut. Rasanya pahit, mencekik. Victor meludahkan apa yang masih tertinggal di lidahnya—kulit yang terkoyak oleh kedua taringnya—dan melangkah mundur. Dia bisa mendengar teriakan Luna bergema di dalam benaknya, tapi terlalu banyak rangsangan daripada yang mampu Victor terima saat ini, jadi ia membangun dinding dan membuat semua suara—dari luar dan dalam kepalanya—membisu.

Atau paling tidak ia mencoba.

Ia berhasil membentengi diri dari Luna, tetapi sebuah suara yang asing masih bertahan di dalam kepalanya. Penuh rasa sakit dan kebingungan, tersusun dalam bunyi deritan dan dentangan lusinan batang besi yang terus berbenturan satu sama lain. Tidak ada kata yang bisa ia kenali, meski rasa sakit itu seolah mampu meremukkan tengkoraknya menjadi serpihan. Victor jatuh terduduk, mengerang dalam suara mulut yang jarang ia gunakan. Tidak ada bagian tubuhnya yang terluka. Namun ia bisa merasakan sakit yang tidak terkira. Seperti anak panah membara yang ditusukkan ke lehernya. Seperti lelehan logam panas yang dialirkan ke pembuluh darahnya.

Luna berteriak lagi, kali ini juga dalam suara mulut. Kata-kata yang mengalir bukan dalam bentuk balok-balok yang selalu dikenali Victor sebagai bahasa ibunya, tetapi rangkaian ringan huruf yang kerap Luna senandungkan di sela-sela percakapan mereka. Bahasa Luna.

Bahasa hutan, ibunya pernah berkata. Satu tanda lain bahwa dia bukan bagian dari kita.

Sambil merintih, Victor menurunkan benteng dalam benaknya perlahan-lahan, tahu bahwa terlepas dari apapun yang pernah sang ibu katakan tentang Luna, ia masihlah saudarinya. Luna selalu melindunginya. Ia membiarkan suara benak Luna masuk, senandungnya mampu mengusir rasa sakit dan menenggelamkan dentangan batang besi yang menyakitkan. Victor masih bisa merasakan suara-suara yang menyiksanya itu jauh di dasar benak, namun kini  alih-alih tajam merobek udara, suaranya seolah-olah terbenam di bawah deburan ombak. Ia menarik napas panjang, merasakan kedua tangan Luna bergerak untuk memeluknya.

Kau baik-baik saja, Luna berusaha menenangkan, suara benaknya kembali berbicara dalam bahasa ibu Victor.

Rasanya seperti ada yang terluka, Victor memprotes.

Itu bukan kau.

Lalu siapa?

Bersamaan dengan memudarnya rasa pahit darah dari lidahnya, Victor mulai bisa mengenali sama-samar suara anak laki-laki yang baru saja diterkamnya. Ah, si manusia.

Luna menggumamkan persetujuan.

Dia bukan makanan? Victor bertanya.

Saudarinya tertawa. Kurasa bukan.

Menarik napas lagi, Victor menggelengkan kepala. Ia mengangkat tangannya dan meletakkannya di atas tangan Luna, balas mendekap saudarinya. Aku masih lapar.

Mungkin dia bisa memberi kita makanan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s