Kelopak Yang Meniupkan Angin #7

“Apa kalian?”

Suaranya berdesis, berdentang, seperti lonceng yang digetarkan di dalam panci di atas perapian. Victor tidak tahu kenapa ibunya melelehkan lonceng setiap malam tanpa bulan datang. Ia tidak pernah bertanya. Dan sekarang dia tidak akan lagi memiliki kesempatan untuk bertanya.

“Apa kalian?”

Itu bahasa yang tidak dikenali Victor. Ibunya selalu berbicara dalam rangkaian kata yang kaku, berbalok seperti buku-buku yang berjajar di rak di kamar orang tua mereka. Luna mempelajari bahasa yang sama, meski kadang-kadang tanpa sadar ia akan mencelotehkan frase-frase yang melingkar liar di udara seperti sulur-sulur yang menjalar di permukaan dinding luar mansion mereka. Pada momen-momen seperti itu, Victor tahu dia hanya perlu menyentuh saudarinya untuk mengetahui apa yang sedang ia bicarakan. Pengetahuan itu akan mengalir lewat hubungan darah mereka, merayap hangat menyusuri ujung jemari, ke lengan, ke bahu, hingga meresap ke dalam jantung dan mengiang di seluruh tubuh Victor. Luna sendiri kadang tidak tahu apa yang ia sendiri bicarakan. Ia akan mengerjapkan mata, menunggu Victor untuk menjelaskan. Pertalian darah di antara mereka akan mengirimkan sinyal visual dan membaginya kepada Luna. Mereka akan saling memahami satu sama lain, melalui sinyal itu lebih daripada kata-kata. Semakin banyak bulan berlalu, Victor akan menyadari bahwa ia membenci kata-kata. Gambaran langsung dalam benak lebih mudah untuk dicerna baginya.

Namun bocah di hadapan mereka—dengan kulit sewarna batang pohon dan mata sekelam batu bara—berbicara dalam desisan dan dentangan yang menyakiti telinga Victor. Ia bahkan tidak ingin mendekat, meski si bocah laki-laki justru tengah mengambil satu langkah ke arahnya. Apakah menyentuhnya, seperti bagaimana ia menyentuh Luna, akan bisa membuat Victor memahaminya? Itu diragukan. Victor tidak yakin. Dia tidak pernah bertemu makhluk lain selain bangsa mereka. Bahkan Luna adalah pengecualian, sesuatu yang disebut-sebut ibunya sebagai pelanggaran terhadap alam. Victor tidak terlalu memperhatikan. Ia menyukai Luna dan kosa katanya yang ringan. Victor jelas tidak menyukai bocah dengan suara berdentang yang terus mengambil langkah lambat mendekatinya itu.

“Victor—”

Itu suara Luna; terpilin dan terjerat. Gugup. Khawatir. Victor paham. Malam yang baru saja mereka lalui—atau hari? Saat Victor menengadahkan kepala, ia melihat bahwa matahari sedang tenggelam lagi—begitu melelahkan. Dan telah mencabik hati mereka begitu buasnya.

“Victor, dia manusia.”

Victor tidak tahu apa itu. Apakah itu sejenis makanan? Hewan? Sebutan untuk arwah leluhur? Victor pikir dia belum pernah mempelajari kata itu sebelumnya.

Ia bisa mendengar Luna menghela napas di belakang kepalanya, menahan tawa. Tidak pantas—Victor balik mengirimkan sinyal. Kau tidak seharusnya tertawa sekarang ini.

“Oh, Victor,” balas Luna, masih terkekeh, “kau tahu benar apa artinya ‘manusia’.”

Benarkah? Victor berpikir, menahan kata itu sejenak sebelum melemparkannya ke benak Luna. Ia menggali ingatan. Ia tidak pernah suka menghafalkan kata-kata. Ibunya cepat marah dan ayah mereka berpendapat tidak ada gunanya mengajari murid yang enggan. Lagi pula mereka bisa berkomunikasi dengan baik tanpa kata-kata. Apa yang dilihat oleh mata dan digemakan dalam benak lebih jelas dan lebih kuat daripada yang diucapkan oleh lidah.

Manusia.

Yah, terdengar familiar. Victor menggelengkan kepala. Mungkin makanan. Atau hewan. Dan hewan bisa jadi makanan.

Terlebih lagi, Victor sedang lapar.

Maka tanpa pikir panjang, ia menerjang. Si bocah laki-laki menjeritkan satu nada yang memecah keheningan senja. Victor tahu apa artinya itu.

Kengerian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s