Kelopak Yang Meniupkan Angin #6

Namun manusia atau bukan, mereka jelas anak-anak. Begitu muda. Tidak mungkin lebih tua dari Ren sendiri, yang di akhir musim panas akan mencapai empat belas tahun. Jadi ia memberanikan diri untuk mendekat, setelah sebelumnya meletakkan keranjang berisi ranting-ranting dan dahan pohon yang ia kumpulkan di sepanjang jalan menembus hutan dari desa di bawah bukit ke rumah orang tuanya di belakang gereja biru muda. Langkah kakinya bergemeresik di atas dedaunan kering, yang baru Ren sadari kemudian—sama seperti keberadaan dua sosok asing itu—adalah pemandangan yang salah. Tidak ada daun yang gugur di musim dingin. Bahkan tidak ada daun yang bisa ia temukan di tengah cuaca bersalju ini. Jadi dedaunan itu memang muncul dari ketiadaan dan bukan bagian dari hutan.

Ren menelan ludah. Ia tahu suaranya akan bergema dalam keheningan senja.

“Apa kalian?”

Dia juga tahu dia tidak seharusnya bertanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s