Kelopak yang Meniupkan Angin #1

Dia adalah hutan,
Cerah dan hidup.
Perak terselip pada tiap helai rambut.
Kelamnya malam terjebak dalam tiap pandang mata.

Ibunya angin,
Muda dan rapuh.
Terkurung di balik baris ratusan pohon
hingga hatinya tercerabut oleh sepasang tangan
pengabdi rembulan.
Dan dalam berakhirnya kisah mereka
miliknya—sang anak—mulai terpintal.

Ayahnya memanggilnya “Luna”,
seperti bentuk pucat di antara bintang-bintang.
Mencoba memberinya keamanan,
satu keluarga lain,
dan sebuah rumah yang lain.
Sejak membuka mata,
hutan bukan lagi rumah beratapnya.
Yang ada adalah lantai berubin dan dinding pualam.
Jendela yang sempit dan seorang saudara laki-laki.

Ibu tirinya memalingkan muka
untuk bertahun-tahun lamanya.
Kedua tangan terlalu sibuk menuangkan
darah pada bayi yang tak kunjung bertambah besar.
Luna akan mengintip dari balik pintu di seberang ruangan,
berbisik,
“Akankah kau mencintaiku
seperti kau mencintai puteramu?”

Sragen, 07 April 2020

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s