Puisi: tentang bagaimana aku tidak lagi membiarkanmu ada

2018: tentang mengapa aku pernah membiarkanmu ada

bagian i:
JANUARI.
Hujan. Favorit. Kebingungan. Penghiburan.
Suatu hari aku mengangkat telepon dan suaramu menggemuruh bersama bunyi statis komunikasi tanpa tatap wajah. Aku tertawa. Kau satu-satunya orang yang bisa membuatku tertawa. (Dulu, tidak lagi, bukan satu-satunya sekarang, mengapa berubah?)
(Kurasa aku yang berubah.)

 

 
Bintang jatuh. Bintang mati. Supernova. Lubang hitam. Januari. Ah, Januari.

 

Bahkan dari jarak 78 km, aku bisa merasakan senyummu mengembang.
“Selamat ulang tahun!” Kau bilang, serupa seperti satu tahun lalu, dua tahun lalu, atau bahkan tiga minggu setelah kita pertama kali bertemu (Terlalu cepat dekat, bukankah begitu?) Tapi ini kita–kau dan aku.
Ini aku. Ini engkau. Ini kita.
(Bagaimana sekarang?)
Itu aku. Itu engkau. Di mana kita?
(Mengapa perlu ditanyakan sekarang?)
 
2018: tentang bagaimana aku tidak lagi membiarkanmu ada

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s