Puisi: always a step behind now

Source: https://static.zerochan.net/Yuuhei.full.346913.jpg



(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Kau bilang, “Lihatlah bintang.” Namun langit di sini setengah hari lebih lambat dari langitmu, maka yang bisa kulihat hanyalah masa depan yang tak (belum) bisa kujangkau dan jejak-jejak masa lalu yang entah mengapa menolak untuk pergi.

Kau bilang, “Rasakan angin.” Namun aku berada puluhan kilometer di bawah permukaan yang kau pijak, maka udara di sini stagnan dan pesan yang kau tiupkan bersama harapan tak (belum) akan sampai.
Kau bilang, “Hirup aroma musim gugur.” Namun di sini hanya ada tetesan hujan dan guguran daun yang masih kalah jauh dari tumpukan mati helai cokelat di jalanan yang kau susuri, maka aku menutup mata dan berpura-pura bahwa aku berada (jauh) di sampingmu.
Kubilang, “Tunggulah tiga, empat tahun.” Namun seberapa besar bagian dari diri kita yang telah berubah ketika waktu yang dijanjikan itu tiba? Apakah kita masih bisa memandang bintang dengan memori yang tak menyakitkan nantinya? Apakah kita masih bisa merasakan angin tanpa tercabik nostalgia nantinya? Apakah kita masih bisa menghirup aroma musim gugur tanpa merasa tercampakkan nantinya?

Eta Wardana
Depok.
Pertama kali dipublikasikan melalui Line pada 8 Oktober 2017.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s