Puisi: forever is not ours

Source: https://static.zerochan.net/Juuyonkou.full.1117057.jpg



(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Kepada dirimu yang berkali-kali menolak untuk berpisah.

Jadi ini yang terakhir, kukatakan sekali lagi bahwa ini bukan tentang jarak, bukan tentang baris-baris yang tertulis dan baris-baris yang terucap melintasi separuh dunia. Ini bukan tentang kejenuhan, bukan tentang bagaimana mataku tak merindukanmu bahkan ketika kau tak ada dalam pandangan, bagaimana diriku tak menginginkanmu dekat bahkan saat langit yang kita lihat tidaklah sama.

Ini bukan tentang aku, bukan juga tentang kau (atau setidaknya begitulah aku berharap). Ini tentang bagaimana aku melihat masa depan dan memahami bahwa titik di mana kita berakhir tidak berada di sana.

Karena di sinilah kita perlu mengucapkan selamat tinggal.

Kepada dirimu yang berkali-kali menolak untuk berpisah:

Jangan salahkan dirimu. Jangan terpaku padaku. ‘Kita’ berakhir untuk sebuah kehidupan yang lain, bukan untuk menamatkan kisah yang baru separuh berjalan ini.

Selamat tinggal. Mulai saat ini, aku bukan tokoh utama dalam ceritamu. Dan kau bukan lagi bagian integral dari buku hidupku.

Selamat tinggal. Terima kasih telah menyerahkan tiga tahun dirimu bersamaku.

(untuk seorang raja, yang pernah menjadi sang raja)
(forever is not ours, but i’ll remember)

Eta Wardana
Depok.
Pertama kali dipublikasikan melalui Line pada 18 November 2017.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s