in dark, there is fire

Hatiku yang mati ini tidak menginginkan apapun. Tinggal daging berdegup yang terus berdetak tanpa henti, sudah tak mampu lagi mengecap bibit dari keserakahan. Hatiku yang mati ini telah lelah hidup, meski enggan membagi napas dengan orang lain. Hatiku yang mati ini masih terjebak di dunia orang-orang hidup, karena sesungguhnya ia tidak ingin mati. Namun hatiku ini mati dan tiap degupnya mewakili kegagalanku untuk menjalani hidup.

Hatiku mati, kau dengar? Mati. Mati seperti tawa yang padam sebelum usai. Mati seperti senyum yang pudar sebelum habis. Mati seperti bayi yang tercekik di antara tangis.

Dan kau bukan pijar, bukan angin. Takkan mampu menjadikan hembus napas letih ini lebih berarti. Takkan mampu mengganti degup sekarat ini bersemangat lagi. Kau adalah tawa juga senyum, tapi euforia-mu tak memiliki makna lebih dari sekadar fenomena. Halunasi. Ilusi belaka. Kau adalah manusia dan hatimu merasa; berduka mungkin, karena aku, tapi tetap membentuk dan menampung emosi fana. Namun hatiku ini—hatiku yang mati ini—telah mati.

Terlalu sulitkah bagimu untuk memahami?

2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s